Skip navigation

Category Archives: Tip & Trik

Sebenarnya ada keinginan untuk sedikit membumbui artikel ini dengan cerita tapi saya sudah memutuskan untuk tidak bercerita. Jadi, berikut adalah program ABAP SAP untuk melakukan reset password cross client. Normalnya di SAP reset password itu hanya dapat dilakukan di client yang sama. Buat program baru dengan SE38, salin tempel kode berikut, aktifkan, lalu jalankan. Hasilnya, password user yang direset di client lain akan sama dengan password di klien yang digunakan saat ini.

Read More »

Walaupun judulnya berbahasa Inggris, artikel ini disajikan dalam bahasa Indonesia :-). Ceritanya bermula ketika beberapa hari yang lalu ada beberapa proses di server SAP kloning (bukan production) menghabisi CPU. Proses tersebut mengakibatkan server SAP menjadi tidaa berdaya karena penggunaan CPU selalu di atas 90%. User masih bisa login ke sistem tapi ketika menjalankan suatu tcode (transaction code), prosesnya terasa sangat lambat sekali. Bahkan rekan-rekan progammer ABAP yang melakukan debugging tidak pernah benar-benar masuk ke debugger sama sekali. Setelah melakukan sedikit investigasi, saya memutuskan untuk membunuh semua proses milik user sepadm (adm) di sistem operasi AIX tempat SAP bercokol. Hasilnya maknyus, penggunaan CPU langsung turun ke angka di bawah 10%.

Read More »

Biasanya untuk mengubah permisi direktori/berkas di GNU/Linux secara rekursif, saya menggunakan chmod tapi ternyata hasilnya bisa saja tidak seperti keinginan. Masalahnya ketika menggunakan opsi -R (rekursif) bersama chmod maka semua berkas di bawahnya akan mendapatkan efek samping. Kadang suka cari solusi menggunakan chmod, kalau baca di manual perintah ini sepertinya tidak memungkinkan utk menyelesaikan masalah. Solusinya? Gampang saja, kombinasikan dengan chmod perintah find.

find . -type d -exec chmod 755 {} \;

Perintah di atas akan mengubah permisi semua direktori di bawah . (direktori aktif).

find . -type f -exec chmod 644 {} \;

Perintah di atas akan mengubah permisi semua berkas di bawah . (direktori aktif).

Malam ini pas buka Google Reader seperti biasa untuk membaca berita dan artikel dari situs dan blog langganan, ada pesan dari Google tentang berbagai shorcut keyboard di Google Reader. Ini dia daftarnya, saya repost saja di blog ini karena saya lumayan sering menggunakan Google Reader.

  • j/k: next/previous item
  • n/p: scan down/up (list only)
  • o/enter: expand/collapse (list only)
  • s: star item
  • + s: share item
  • v: view original
  • m: mark item as read/unread
  • r: refresh
  • f: toggle full screen mode
  • + a: mark all as read

Biasanya saya cabut terus pasang lagi satu-satu itu kabel dengan port di Ethernet PC server atau dengan kata lain menggunakan cara coba-coba. Tapi jelas saja cara ini kurang praktis apalagi ada beberapa PC yang memiliki beberapa Ethernet yang harus dikonfigurasi. Cara yang lebih praktis adalah menggunakan kakas ethtool yang dijalankan dengan perintah:

sudo ethtool -p eth0

Kartu yang sesuai akan berkedip-kedip sampai kita menekan Ctrl+C. Sayangnya tidak semua Ethernet NIC mendukung hal ini.

Update 9/10 13:46:
Ubuntu tidak membawa tool ini secara default jadi kita harus pasang dulu.

sudo apt-get install ethtool

preman@terminal:/tmp$ cat root.c

#include <stdio.h>
#include <stdlib.h>
#include <unistd.h>
#include <sys/types.h>

int
main() {

  if (getuid()) {
    fprintf(stderr, "You\'re not \"root\", get out of here!\n");
    exit(1);
  }
  else {
    printf("Welcome home!\n");
    return 0;
  }
}

Kompel:
preman@terminal:/tmp$ gcc root.c -o akar

Jalankan:

preman@terminal:/tmp$ ./akar
You're not "root", get out of here!
preman@terminal:/tmp$ sudo ./akar
[sudo] password for preman:
Welcome home!

Potongan kode ini untuk memeriksa apakah pengguna yang menjalankan program adalah root atau memiliki akses setingkat root.

Belakangan ini saya sering menjalankan program yang membutuhkan waktu yang lumayan lama, bisa berjam-jam bahkan terkadang bisa berhari-hari. Celakanya listrik di kontrakan saya sering padam tanpa alasan yang jelas sehingga sering kali program yang saya jalankan harus diulangi dari awal karena memang tidak ada opsi untuk menyimpan proyek yang sedang diproses. Dan karena kata orang “waktu adalah uang” maka terkadang saya ingin mengetahui berapa lama persisnya waktu yang dibutuhkan program yang saya jalankan untuk menyelesaikan suatu proses pengolahan data. Selain untuk iseng, mungkin nanti akan dibutuhkan dalam laporan. Caranya ternyata cukup mudah, kita tinggal menambahkan perintah time di awal program yang hendak dijalankan:

time java weka.core.converters.ArffLoader -i data.arff

Contoh keluarannya seperti ini:

real   4m30.086s
user   4m28.330s
sys   0m0.130s

Kelihatan kan? Untuk lebih jelas tentang time ini, silakan membaca manual.

Beberapa hari yang lalu saya selesai mengunduh VMWare Server 2.0.2 yang rencananya akan saya instal di Ubuntu 10.04 Lucid Lynx 64bit. Setelah memekarkan berkas installer,

cd /media/data #installer saya taruh di direktori ini
tar xzvf VMware-server-2.0.2-203138.x86_64.tar.gz

saya mulai instalasi

sudo ./vmware-install.pl

hasilnya nihil, yang saya dapatkan hanya pesan galat seperti ini.

Read More »

Pernah dengar atau make ssh kan, sebuah protokol untuk komunikasi dua mesin secara aman. Penggunaanya mirip telnet, bedanya telnet itu tidak aman karena mengirim semua data dalam bentuk “clear text” sedangkan ssh itu jauh lebih aman karena data-data yang dikirimkan akan dienkripsi terlebih dahulu. Lalu apa hubungannya dengan sshfs? SSHFS itu sebuah tool yang menggunakan SSH untuk mengakses (mount) remote filesystem secara lokal. Karena SSHFS melakukan autentikasi suatu koneksi maka kita dapat menjamin bahwa hanya orang yang memang diizinkan saja yang dapat melakukan mount direktori. Karena SSH mengkripsi data selama transaksi, tidak ada yang dapat melihat data selama transfer di jaringan. Dan karena SSHFS dibangun menggunakan FUSE, bahkan user root pun harus melakukan su ke user yang mengkaitkan (mount) direktori untuk dapat melihatnya. Sangat aman bukan? Lalu bagaimana menggunakannya di Ubuntu 10.04?

Read More »

IPCop FirewallPerhatian, sebelum melanjutkan membaca artikel ini harap diperhatikan bahwa isi dari artikel ini tidaklah sesangar judulnya. Benar kata Tukul Arwana “Don’t judge a book just from the cover”, berlaku juga untuk semua artikel dan tulisan selain buku, jadi “Don’t judge a blog just from the title”. Tulisan ini hanyalah sepenggal pengalaman saya menjadi instruktur workshop “Mengamankan Jaringan Komputer dengan Linux” yang kebetulan menggunakan distro IPCop. Distro ini mempunyai fungsionalitas utama sebagai firewall dan router, ukurannya cukup kecil, hanya 51 MB. Masalahnya datang dari sini, CD instalasi IPCop sudah menjadi fasilitas standar yang diterima peserta ditambah ada beberapa add-on berukuran kecil juga yang hendak digunakan selama workshop. Kalau harus membakarnya ke dalam dua kepingan CD kan eman. Akan lebih baik kalau add-on juga bisa disatukan dengan installer IPCop. Jadilah ide untuk melakukan sedikit remaster pada distro IPCop ini menjadi solusi.

Read More »