Skip navigation

Category Archives: Jalan-jalan

Salah satu prinsip yang cukup mendasar dalam fotografi adalah membuang objek yang tidak diperlukan dari frame. Tujuannya menciptakan komposisi yang bagus, hanya berfokus pada objek yang menjadi daya tarik foto tersebut. Dengan kata lain, lebih baik menyertakan objek seminimal mungkin ke dalam frame dari pada memasukkan objek yang justru membuat foto kehilangan maknanya. Mungkin itu juga sebabnya salah satu ahli fotografi pernah berkata “Jika kamu merasa fotomu belum cukup bagus, artinya kamu belum cukup dekat dengan objek itu.” Namun terkadang kita tidak selalu berada dalam kondisi ideal untuk menjepret dengan komposisi yang bagus.

Read More »

Banjarmasin merupakan Ibu kota propinsi Kalimantan Selatan. Kota ini biasa mendapatkan julukan Kota Seribu Sungai. Because what? Banjarmasin memang dibelah oleh beberapa sungai besar dan kecil. Contohnya saja adalah Sungai Barito dan Sungai Martapura. Selain itu Banjarmasin juga sering disebut-sebut sebagai Venice of Indonesia. Tahu kan kota Venice di Italia yang terkenal dengan gondolanya itu? Nah jika sedang berkunjung ke Kota Banjarmasin, ada beberapa destinasi wisata yang sayang untuk dilewatkan. Mau tahu apa saja? Let’s check it out.

Read More »

Seorang teman saya dulu pernah berkata “Salah satu bisnis yang tidak akan pernah ada matinya adalah bisnis kuliner”. Kenapa bisa demikian? Manusia hidup butuh makan, itu jawabannya. Manusia makan setidaknya tiga kali dalam sehari, di manapun ia berada. Ketika seseorang atau sekelompok orang sedang berwisata, salah satu tujuan wisata yang pasti akan dikunjungi adalah wisata kuliner. Kurang pas rasanya jika mengunjungi suatu daerah tanpa menikmati kuliner khas di daerah tersebut. Apalagi untuk negeri seperti Indonesia, keanekaragaman daerah Nusantara telah menciptakan kekayaan kuliner yang begitu unik.

Read More »

Sebagai negara maritim kepulauan dengan garis pantai membentang sepanjang 95.181 km, sangat wajar kalau Indonesia memiliki banyak sekali pantai yang indah. Beberapa di antaranya sudah sangat terkenal hingga ke dunia internasional, sebut saja Pantai Kuta dan Pantai Sanur di Bali. Namun tidak sedikit pula yang masih tersembunyi sehingga keindahannya tidak banyak disaksikan mata manusia. Salah satunya Pantai Siring Kemuning di Bangkalan, Madura. Pantai Siring Kemuning terletak di desa Mecajah di Kecamatan Tanjung Bumi, berjarak sekitar 41 km ke arah utara Kota Bangkalan. Jika memulai perjalanan dari Kota Bangkalan, butuh waktu sekitar sejam dengan menggunakan sepeda motor untuk sampai di pantai ini. Sebaiknya gunakan kendaraan kendaraan pribadi karena belum ada angkutan umum yang mencapai daerah Pantai Siring Kemuning.

Read More »

Bertempat di Lapangan Skep Bangkalan, sebuah lapangan di dekat Alun-alun Kota Bangkalan, Karapan Sapi Madura Piala Kapolda Jatim dilaksanakan pada hari Minggu, 19 Juni 2011. Event ini diharapkan mampu mengangkat potensi wisata budaya di Bangkalan dan menarik lebih banyak wisatawan berkunjung ke Madura. Berbeda dengan event karapan sapi tahun sebelumnya, tahun ini karapan sapi diikuti para peserta tidak saja dari wilayah Bangkalan dan Madura tetapi juga dari Gresik dan beberapa kabupaten lain di Pulau Jawa. Acara ini dikemas cukup menarik, dibuka dengan penampilan tarian tradisional Madura yang diiringi musik khas daerah yang terkenal sebagai penghasil garam ini. Selain itu di luar lapangan juga dilaksanakan ekspo dan pameran berbagai produk kerajinan dan usaha kecil menengah di Kota Bangkalan.

Read More »

Satu lagi postingan telat di blog ini. Hampir dua minggu lalu, di sebuah pagi di hari Sabtu (2 Juli 2011), komunitas blogger Madura yang bercita-cita mengubah citra tanah kelahiran mereka dengan tulisan di blog melakukan ekspedisi ke salah satu tempat eksotis dan mungkin jarang dikunjungi orang di pulau penghasil garam itu, Gunung Geger. Sebenarnya kurang tepat juga kalau disebut gunung karena setelah saya sampai di sana sepertinya apa yang disebut Gunung Geger ternyata bukit yang menjulang cukup tinggi. Letaknya di Kabupaten Bangkalan, tidak jauh dari kota Bangkalan. Namun perjalanan menuju lokasi memakan waktu beberapa jam karena kondisi jalan yang tidak terlalu baik.

Read More »

Ada sedikit oleh-oleh dari acara Malang Tempo Doeloe atau yang dikenal juga dengan nama Festival Malang Kembali. Malang Tempo Doeloe ini acara rutin yang sudah menjadi agenda tahunan kota Malang dan sudah dilaksanakan selama enam tahun terakhir ini. Tahun ini Malang Tempo Doeloe mengangkat tema “Discovering Heritage” dan dilaksanakan selama empat hari, 19 Mei s.d. 22 Mei 2011. Beruntung sekali tahun ini saya dan rombongan Kontrakan Belah Nangka bisa menghadiri acara yang bikin kota Malang macet. Sayangnya, kami datang pada waktu yang kurang pas. Bayangkan saja kalau harus ke Malang Tempo Doeloe di malam Minggu (21/05/2011), pengunjung begitu membludak bahkan untuk jalan saja butuh usaha ekstra keras. Kata teman-teman dari Kontrakan Belah Nangka, tujuan utama ke sana adalah “melihat yang lihat”, ya ya lah cewe-cewe Malang kan cantik-cantik dan mulus-mulus.

Read More »

Cerita berikut ini adalah nyata adanya, tidak ada tokoh rekaan maupun fiksi di sini. Cerita dimulai ketika Bapak Ketua Umum UKMF ITC (Information Technology Center) Didin menghubungi saya lewat ponsel. Beliau menawarkan satu perjalanan menarik ke Mojokerto, perjalanan penuh perjuangan untuk mensosialisasikan sistem operasi GNU+Linux dan Perangkat Lunak Bebas dan Sumber Terbuka. Saya juga mendapat tugas dari beliau untuk menjadi pembicara menggantikan salah seorang pembicara yang tidak bisa ikut serta karena suatu alasan. Setelah memastikan tidak ada kegiatan di hari Sabtu, 21 Mei 2011, saya dengan senang hati menyanggupi untuk ikut dalam kegiatan ini.

Read More »

Akhirnya sampai juga di bagian terakhir cerita dari Makassar ini (mudah-mudahan menjadi yang terakhir) 😀

Perjalanan saya di Benteng Somba Opu harus diakhiri lebih cepat karena hujan yang tiba-tiba turun dengan sangat deras. Untungnya becak yang saya tumpangi dilengkapi dengan pelindung hujan, walaupun saya harus kasihan melihat bapaknya mengayuh becak di tengah hujan deras. Itu sebabnya pas bayar ongkos saya tidak tawar-menawar lagi dengan bapak itu.

Toraja

Rumah adat Toraja

Read More »

Mari melanjutkan cerita dari Makassar

Benten Ujung Pandang

Pintu masuk Fort Rotterdam

Dari Fort Rotterdam saya melanjutkan perjalanan ke Monumen Mandala. Sebenarnya saya sempat berpikir untuk menyeberang ke Pulau Kayangan tapi tidak jadi. Kali ini saya naik becak dayung karena menurut beberapa orang yang saya tanyai di depan benteng, perjalanan akan lebih dekat jika saya naik becak. Ternyata jarak dari Fort Rotterdam ke Monumen Mandala memang tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu tempuh sekitar 10 menit untuk sampai.

Read More »