Skip navigation

Sewaktu saya duduk di bangku SD, guru-guru selalu mengajarkan kalau negeri di mana saya dilahirkan ini adalah sebuah negeri yang sangat subur. Konon tak ada lagi tanah di belahan Bumi manapun yang sesubur tanah di Indonesia. Bahkan ada yang bilang kalau tanah kita itu tanah surga di mana tongkat dan batu yang dilemparkan begitu saja ke tanah akan menjadi tanaman. Tempat di mana kail dan jala cukup untuk menghidupimu. Guru-guru itu juga tak lupa mengajarkan kalau sebagian besar penduduk negeri ini adalah petani. Mereka menanam padi, jagung, kacang-kacangan, sayur-mayur, hingga buah-buahan untuk dikonsumi sendiri ataupun dijual untuk menyekolahkan anak-anaknya. Para petani ini tidak akan membeli apa yang bisa mereka hasilkan dari bertani. Mereka bangga bisa hidup mandiri dari hasil pertanian di tanahnya sendiri.

Namun setelah saya semakin dewasa, saya merasa ada yang aneh dengan negeri kita tercinta ini. Hampir setiap hari selalu ada berita tentang harga berbagai bahan pangan yang melambung tak terkendali. Pemerintah pusing, rakyat menjerit dalam kelaparan. Ke mana gerangan para petani itu hingga kita harus kekurangan pangan? Apakah tanah kita sudah tak sesubur dulu lagi? Atau jangan-jangan guru-guru di SD dulu berbohong? Ah sepertinya tidak mungkin.

Selidik punya selidik, ternyata kita tak bangga lagi jadi petani. Selidik punya selidik, ternyata apa-apa yang kita makan sehari-sehari bukanlah produk pertanian dari tanah sendiri. Segala sesuatunya kini diimpor. Nasi yang kita nikmati tiga kali dalam sehari itu berasal dari beras impor dari Thailand. Tahu dan tempe yang menjadi asupan protein untuk rakyat kecil itu berasal dari kacang kedelai yang diimpor. Daging sapi yang hanya dapat dinikmati orang berkantong tebal itu juga berasal dari produk impor. Sayur-mayur dan buah-buahan pun juga hasil impor. Bahkan garam yang menghilangkan rasa hambar pada sayur juga harus kita impor. Padahal sudah beberapa tahun ini saya hidup di pulau yang bahkan mendapat julukan Pulau Garam. Ironis.

Angka-angka impor produk pertanian kita pun begitu fantastis. Pada periode Januari hingga Juni 2013 saja, kita mengimpor beras sebanyak 239.000 ton atau jika diuangkan nilainya sekitar US$ 124, 4 juta. Angka itu belum seberapa, pada periode yang sama kita mengimpor jagung sebanyak 1,3 juta ton dengan nilai US$ US$ 393 juta. Impor kedelai tak kurang dari 826.000 ton yang total harganya US$ 509,5 juta. Impor tepung terigu mencapai 82.501 ton senilai US$ 36,9 juta. Dan tahu berapa angka impor garam kita? 923.000 ton yang jika diuangkan sebesar US$ 43,1 juta. Jika angka-angka ini ditotal lalu dirupiahkan, jumlahnya tentunya sangat besar.

Tak heran pula kalau harga produk pangan kita sangat fluktuatif, selain adanya gosip permainan mafia dan kartel, nilai tukar mata uang juga sangat berpengaruh karena kita membayar produk impor dengan dollar yang belakangan ini harganya meroket. Seperti biasa, pemerintah kita selalu punya solusi instan untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan rakyat kecil. Gampang sekali, buka saja pintu impor sebesar-sebesarnya, banjiri pasar dengan barang agar harga bisa turun. Tentu saja saya bukan ahli ekonomi, pemerintah lebih tahu bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini. Tapi sepertinya itu bukan solusi yang tepat.

Sampai kapan kita akan makan beras impor? Sampai kapan harga bahan pangan bergantung pada nilai tukar dollar? Sampai kapan rakyat mengencangkan ikat pinggang menahan rasa lapar? Sampai kapan petani kita menderita karena hasil taninya kalah bersaing dengan produk impor? Saya tidak tahu, mungkin hanya waktu yang akan dapat memberi jawabannya untuk kita semua.

SELAMAT HARI TANI! (24 September 1960 hari di mana Undang-undang Pokok Agraria No.5/1960 terlahir di bumi Indonesia ditetapkan sebagai Hari Tani Nasional)

10 Comments

  1. Karena ‘kebanggaan’ sebagai petani sudah terkikis oleh ‘ketergiuran’ terhadap profesi2 lain yang disangka lebih ‘memberikan jaminan’ daripada berprofesi sebagai petani. Di lain pihak, entah bagaimana perusahaan perkebunan berperan mengurangi ‘lahan pertanian’ itu sendiri.

    Miris juga sih melihat Indonesia sebagai negara agraris tapi mengimpor hasil pertanian dari negara lain.

    • Budiarno: Kita harusnya malu ngimpor produk pertanian. Sarjana-sarjana pertanian kita harusnya juga malu.

  2. aku tetap berniat seperti Banun semalam..

  3. Pekerjaan sebagai PNS lebih terlihat menguntungkan daripada petani plus kesan petani yang miskin dan hanya berkutat pada lahan, membuat minimnya generasi yang melanjutkan mengolah lahan. Wajar jika kemudian stok pangan kita kurang. -pandangan pribadi

    • Miftahgeek: Pandangan pribadi yg berdasarkan fakta sepertinya itu gan

  4. mungkin yg tak tahu malu itu pemerintah & jajarannya,rakyatnya lebih beradab daripada mereka2 itu

    • Yogieza: Secara garis mungkin negara itu ya pemerintah karena mereka yg mengelolanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: