Skip navigation

Sebelumnya saya menggunakan Debian 6.0 Squeeze di Dell Lattitude E4300. Semua perangkat keras telah bekerja dengan baik. Saya cukup puas dengan performa Debian Squeeze. Sayangnya karena strategi rilis Debian yang memakan waktu cukup lama, aplikasi yang ada di repositori kebanyakan versi lama yang sudah ketinggalan kereta zaman. Padahal perkembangan perangkat lunak bebas dan sumber terbuka itu sangat cepat. Firefox contohnya, saat ini bahkan sudah mengeluarkan versi 10 alpha 1. Satu cara untu mendapatkan perangkat lunak paling baru di Debian dengan cara melakukan kompilasi sendiri, cara ini resikonya cukup besar dan butuh upaya yang cukup besar juga. Cara lain yang lebih aman, melakukan upgrade menggunakan repo unstable atau testing.

Saya memilih cara yang kedua. Setelah mengganti pengaturan repo di /etc/apt/sources.list saya memulai upgrade dengan menjalankan perintah:

aptitude safe-upgrage

Proses ini tidak berjalan dengan mulus. Ada beberapa paket yang tidak berhasil dinaiktingkatkan, paket yang paling bandel adalah git dan git-core yang entah mengapa saling bentrok dalam ketergantungan (dependency) yang tidak selesai. Setelah baca dan baca di berbagai forum ternyata hal ini karena perbedaan penanganan ketergantungan antara aptitude vs apt-get yang sebelumnya saya gunakan. Itu sebabnya tidak disarankan menggunakan keduanya secara bersamaan/bergantian. Kalau ingin berpindah dari apt-get ke aptitude sebaiknya jalankan dulu

aptitude keep-all

Masalah ketergantungan ini saya selesaikan menggunakan perintah

aptitude install aptitude

Upgrade selesai, laptop langsung saya reboot. Ada masalah lagi, sistem berusaha melakukan fsck (file system check) terhadap partisi / (root) yang menggunakan format btrfs. Ini sebenarnya tidak perlu dan sesungguhnya di sistem tidak ada fsck.btrfs. Hasilnya partisi / harus dikaitkan (mount) baca saja (read only) dan disarankan melakukan fsck manual. Sesudah reboot beberapa kali, tidak lupa mencoba beberapa versi kernel yang terpasang di sistem, saya segera sadar kalau fsck di proses awal boot ini pasti ada kaitannya dengan /etc/fstab. Lansung saja saya rubah konfigurasi di /etc/fstab, ups tapi sistem berkas (file system) kan masih baca saja. Mari kita kaitkan ulang supaya bisa dibaca/ditulis.

mount -o remount /

Pastikan dua angka di akhir baris konfigurasi untuk partisi / adalah 0, begini contohnya.

/dev/sda1      /      btrfs      defaults   0   0

Oke, langsung saya beralih ke modus GUI dengan perintah

init 2

Ah, pas login ke Gnome 3 ternyata belum bisa. Cek punya cek ternyata direktori /home belum dikaitkan setelah proses boot yang gagal tadi. Cara mengatasinya kaitkan partisi /home dari terminal virtual dengan mengetik Ctrl+Alt+F1 lalu

mount -a

Nah, sekarang berhasil login ke Gnome 3 dengan Gnome Shell yang terlihat sangat berbeda dengan Gnome 2. Karena terpesona dengan tampil Gnome Shell saya berputar-putar sebentar di sekitar dekstop sebelum memeriksa apa-apa yang belum berjalan dengan baik.

Beberapa masalah yang saya temukan setelah upgrade:

  • Partisi dengan sistem berkas NTFS milik Windows tidak dapat ditulisi, solusinya dengan memasang ntfs-3g.
  • Perangkat nirkabel (wireless) Intel Ultimate WiFi Link  N 5300 sudah terdeteksi tetapi tidak dapat tersambung ke hotspot wifi. Solusinya memasang firmware nirkabel Intel.
  • Reboot tidak bisa dan berhenti begitu saja. Solusinya tidak jelas, reboot akhirnya bisa begitu saja.
  • Suara di speaker belum terdengar jelas terutama kalau menggunakan aplikasi flash. Belum ada solusi.

Demikianlah kini di laptop saya (milik kantor) sudah terpasang Debian Unstable. Sekian laporannya.

5 Comments

  1. gak enak bang pakai gnome-shell berat enakan yang pakai klasik 🙂

  2. debian unstable itu degan namanya ‘unstable’ 😀

    kalo saya pake debian-testing om, lebih aman

    • Tapi sejauh ini masih blm bertemu dengan masalah kok. Unstable is unstable enough to make trouble.

  3. sayang happy ending, melihat dari judulnya, aku mengharapkan sesuatu yang buruk tadi.

    jadi pingin nginstall debian juga(udah tak sediain partisi kosong si..), sayang belum bisa mengeksekusi gara-gara gak bisa bikin liveUsb-nya

    • Emang lebih senang kisah yg sad ending ya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: