Skip navigation

Acara yang sudah menjadi agenda bulanan KLAS ini, bisa dikatakan selalu diadakan pada hari Sabtu (26/06/2010) di Pearl Cafe, Intiland Tower. Seperti biasa acara ini selalu diramaikan oleh berbagai komunitas pengguna GNU/Linux dan Free Software / Open Source Software dari Surabaya dan sekitarnya. Kali ini ada Blender Army Regional Surabaya (BARS), Komunitas Sabily Indonesia, Komoenitas Linux Troenodjojo (KOELIT) dari Madura, Madrasah Open Source (MOS) dari Lamongan, KPLITS, dan beberapa komunitas kampus dari Surabaya. Namun ada yang berbeda dengan format acara Cangkruan kali ini, jika biasanya hanya ada satu topik dengan satu pembicara maka kali ini ada dua materi yang disampaikan oleh tiga orang pemateri dari dua komunitas berbeda. Topik pertama “Blokir Konten Porno dengan Sabily” disampaikan oleh Cak Anas dan Anton Siswo Rahardjo aka masgandhul dari Komunitas Sabily Indonesia, sedangkan topik kedua “Membangun Ekosistem Industri Animasi dengan Software Bebas Terbuka” disampaikan oleh Adhicipta R. Wirawan dari Blender Army Regional Surabaya (BARS).

Komunitas Sabily Indonesia

logo Presentasi pertama datang dari Komunitas Sabily Indonesia. Sayangnya saya agak terlambat sehingga tidak dapat menyimak seluruh presentasi yang disampaikan oleh anggota komunitas ini. Pemateri pertama, Cak Anas, mengenalkan distro Sabily dan komunitas penggunanya di Indonesia. Seperti mungkin kita sudah tahu, Sabily itu adalah sebuah distro yang dulunya menggunakan nama Ubuntu ME (Muslim Edition). Distro ini datang dengan berbagai koleksi aplikasi Islami seperti Zekr, Minbar, Thawab, dan Monajat karena memang distro ini dibuat khusus untuk umat Muslim. Sebagai sebuah distro yang dikembangkan oleh komunitas dan relawan dari seluruh penjuru dunia (Perancis, Mesir, Tunisia, Indonesia, dll), Sabily sangat terbuka untuk menerima partisipasi pengembang, desain grafis, penguji, atau bahkan hanya ide sekalipun.

Pada sesi kedua, giliran Anton Siswo Raharjo mendemonstrasikan kemampuan Sabily untuk menyaring konten-konten negatif dari Internet. Distro Sabily sebagai distro religi datang dengan aplikasi Webstrict dan Dansguardian yang dapat dikombinasikan sebagai parental control untuk mencegah anak-anak mengakses konten negatif berbau pornografi, judi, kekerasan, atau konten negatif lainnya ketika menjelajah internet.Konfigurasi kedua aplikasi ini sebagai content filter dapat dilakukan dengan mudah karena selain sudah terpasang secara default juga sudah tersedia aplikasi GUI untuk urusan konfigurasi.  Di akhir presentasi pertama ini, tanya jawab berlangsung cukup seru. Berbagai pertanyaan datang dari para peserta cangkruan. Saya sendiri sempat menanyakan tentang pengembangan distro serupa seperti BlankOn sajadah di dalam negeri. Dan tanggapan dari Cak Anas, para anggota Komunitas Sabily Indonesia siap membantu dan mendukung pengembangan BlankOn Sajadah.

Blender Army Regional Surabaya (BARS)

blender army suroboyoJika belum mengenal Blender, jangan heran kalau Blender yang dibicarakan di sini bukanlah blender untuk membuat jus buah karena Blender yang satu ini adalah sebuah perangkat lunak 3D modelling and animation yang ‘free’ dan open source. Walaupun ‘free’ dan gratis kemampuan Blender tidaklah kalah dengan perangkat lunak sejenis semacam 3Ds Max, Maya, dll. Kalau tidak percaya coba saja lihat film pendek animasi tiga dimensi berjudul ‘Big Bucks Bunny’ yang dibuat menggunakan Blender. Sayangnya belum banyak animator yang mengenal dan menggunakan Blender, untuk itulah Blender Army Regional Surabaya yang merupakan bagian dari Komunitas Blender Indonesia dibentuk, tujuan utamanya adalah mengenalkan penggunaan Blender ke para animator dan kalangan umum. Berbagai kegiatan telah ditempuh oleh komunitas ini untuk mengenalkan Blender ke masyarakat Indonesia, beberapa di antaranya adalah kegiatan berupa workshop, pelatihan, demo. penerbitan majalah digital, seminar, dan berbagai kegiatan lainnya.

Nah dalam Cangkruan kali ini, salah satu anggota BARS memberikan presentasi dengan tentang . Di awal presentasi dijelaskan bagaimana perjalanan dunia animasi di Indonesia dari zaman dulu hingga sekarang. Dan yang menarik, begawan animasi Indonesia Dukut Hendrotono telah dikirimkan oleh Presdien Soekarno untuk belajar pembuatan animasi ke Walt Disney pada tahun 1950. Beliau diberi misi oleh Bung Karno untuk membuat animasi sosialisasi pemilu yang akan dilaksanakan pada masa itu. Sepulangnya dari negeri Paman Sam, Dukut Hendrotono berhasil menyelesaikan misinya dan tidak ketinggalan membagi-bagikan ilmu yang dia miliki. Salah satu muridnya adalah Dwi Koen, animator yang menghasilkan karakter Panji Koming.

Di tahun 1990-an hingga 2000-an dunia animasi di Indonesia berkembang cukup cepat. Banyak studio animasi berdiri dan tidak sedikit pula film animasi yang dihasilkan, sebut saja Janus Prajurit Terakhir, Meraih Mimpi, Kabayan Lip Lap, Hebring, dll. Pasar juga berkembang dengan pertumbuhan 10-15% per tahun dengan total aset mencapai Rp. 5T. Sayangnya semua ini belum mampu menumbuhkembangkan ekosistem industri animasi di Indonesia. Menurut pemateri, ada beberapa hal yang perlu dibenahi untuk menumbuhkan ekosistem industri animasi di negeri ini:

  1. Infrastruktur
  2. Pendidikan IT
  3. Kemampuan Bahasa Inggris
  4. Referensi budaya
  5. Promosi

Ya, semoga saja industri animasi Indonesia akan semakin berkembang.

Iklan

2 Comments

  1. aku melbu rono pisan wingi… mbenerno chas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: