Skip navigation

Final Perserikatan 1985 adalah sejarah. Sejarah, karena memang waktu itu aku belum lahir dan mengenal apa itu PSMS Medan dan cerita apa yang pernah ia torehkan. Sejarah, karena memang sampai sekarang Final itu akan terus diingat dan untuk mereka yang pernah menjadi saksi heroik sebelas orang dengan jersey hijau, dengan kebanggaan, dan kecintaan murni, bukan cinta seorang hipokrit yang tak akan pernah abadi.

Final itu paling bersejarah. AFC merilis bahwa itu adalah pertandingan sepakbola amatir terbesar, dengan jumlah penonton tebanyak, melebihi kapasitas Stadion Utama Senayan. Membludak sampai sentelban, tensi tinggi, namun berlangsung tertib sampai peluit panjang. Tak perlu bangga, karena memang euforia semacam ini bisa seketika timbul, jika, andai, manakala, PSMS bisa berprestasi maksimal.

Sejarah mengajarkan tentang kebesaran, dan bahwa masa kini dan yang akan datang merupakan refleksi logis dari tiap bagian cerita sejarah itu sendiri. Untuk menjadi besar, sejarah perlu meski tidak mutlak. Dan beruntunglah, mereka yang dicintai sejarah.

Tradisi, Kultur dan Militansi

Sore itu, di pinggiran Sibolga, seorang pemuda mengenakan Jersey Hijau PSMS diatas motornya. Sibolga, kota kecil yang jauh dari Medan, melahirkan Mahyadi Panggabean, eks kapten PSMS Medan dan sayap Tim Nasional. Ini bukti nyata, PSMS bukan milik kota Medan, walaupun berkandang dan memakai nama Medan, tapi secara emosional sudah menjadi milik Sumatera Utara. PSMS itu tradisi yang tumbuh karena cinta, dijaga dengan cinta, dan diabadikan dengan cinta. Tak ada yang bisa menampik.

Sumatera Utara yang multi-etnis bisa terlihat satu di Stadion Teladan. Hal ini sejalan dengan prinsip Football for Unity. Skuad PSMS jaman perserikatan adalah bukti bahwa PSMS adalah miniatur Sumatera Utara yang multi-etnis, miniatur kecil Indonesia juga tentunya. Fanatisme akan dengan sangat mudah tumbuh dan mengakar jika menilik fakta tersebut. Lebih jauh lagi, fakta tersebut mempertegas bahwa PSMS bukan sekedar klub sepakbola, melainkan aset, tradisi, dan kebanggaan. And For Us Pride is Priceless.

Rap..!! Rap..!! Rap..!! adalah teriakan yang biasa terdengar di Teladan. Konon , ini adalah ciri permainan PSMS Medan. Keras, dan tak kenal kompromi. Namun, bagi saya, ini lebih dari sekedar keras dan tak kenal kompromi, terlalu sempit bila diartikan demikian. Rap-rap adalah identitas, karakter, dan simbol. PSMS hidup dan bisa terus ada karena berjalan bersama Rap-rapnya. Konsistensi akan Rap-rap adalah harga mati, karena lewat cara inilah skuad PSMS bisa bermain dengan hati, militansi, dan perasaan memiliki, bukan dengan uang, iming-iming bonus ataupun berbagai bentuk pemberian nyata lainnya. Dan kami merindukan PSMS yang berkarakter rap-rap, PSMS yang tidak ‘cengeng’. Karena itulah sebenarnya substansi dari kalimat Spirit of Rap-rap.

PSMS dan Harmoni

“Football is like life – it requires perseverance, self-denial, hard work, sacrifice, dedication and respect for authority”. – Vince Lombardi –

Quote diatas melukiskan hubungan antara hidup dan sepakbola yang koheren. Bahwa didalam sepakbola, ada kegigihan, kerja keras, pengorbanan, dedikasi, dan rasa hormat. Ini menjadi penting, karena sebuah tim harus dibangun dengan filosofi seperti itu. Tim adalah sebuah keluarga yang harus berjalan dengan harmoni dan sinergi. Sekali lagi, kami harus jujur, kami rindu PSMS yang mensinergikan kekuatan, keindahan, dan kekompakan, PSMS yang kuat karena kolektivitas bukan karena kekuatan kapital yang candu dan temporer.

Kini, kita sebagai bagian dari PSMS itu sendiri dilingkupi apriori yang membunuh optimisme. PSMS harus berjuang untuk bertahan hidup di sebuah zona yang bukan kasta-nya. Tragis, karena memang memori beberapa tahun yang lalu sulit untuk terhapus, saat PSMS Medan berlaga di partai puncak. Kritis karena tak seharusnya nasib PSMS se-kronis ini. Perlu langkah penyelamatan, yang harus diakui tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena memang masalahnya cukup kompleks dan telah mengakar lama.

Jika boleh bermimpi, saya pribadi berharap PSMS hidup dari kontrak sponsor dan penjualan jersey, bukan dari suntikan APBD yang membunuh PSMS perlahan, sahamnya dijual bebas di lantai bursa, dikontrak eksklusif apparel-branded untuk jersey nya, punya stadion dan fasilitas latihan representatif, punya basis suporter yang solid dan terorganisir, dikelola profesional murni bukan dari kalangan lain yang rentan conflict of interest. Well, cuma mimpi, yang saya yakin jika terwujud akan mampu meneruskan tradisi, mencetak sejarah baru, sekaligus menjaga kebanggaan kami, kebanggaan kita semua.

26/04/2010
spiritofraprap

Artikel ini ditulis oleh sahabat saya, Ihwan Nasution di Pesbuk dan saya kopipes ke sini dengan sedikit perubahan. Artikel ini tentu saja menyiratkan harapan para pecinta Ayam Kinantan untuk klub kebanggaannya.

Iklan

2 Comments

  1. ternyata dunia persepakbolaan kita…pernah juga menorehkan tinta sejarah yang gemilang,,,kapan masuk piala dunia ya?

    • Sayangnya itu tinggal sejarah yg manis untuk dikenang..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: