Skip navigation

Bagaimanan nasib programmer dari dunia Linux (secara umum) dan programmer GAMBAS (secara khusus) di dunia kerja?

Jika Anda termasuk seorang pengguna Linux dan mulai mempelajari bahasa-bahasa pemrograman yang ada di sistem operasi sumber terbuka tersebut, kemungkinan besar pertanyaan di atas akan cukup mengusik perhatian Anda juga (mudah-mudahan saya tidak benar). Bagaimana tidak, seperti kita ketahui bersama S/O M$ W*nd**sDidiet Agus Pambudiono merupakan S/O paling banyak digunakan di negeri ini (bahkan di seluruh dunia), dan mau tidak mau bahasa-bahasa pemrograman yang sesuai dengan S/O tersebut juga yang banyak digunakan di dunia kerja di negeri ini.

Walaupun demikian, sebagai seorang Linuxer Anda tidak perlu khawatir (apalagi sampai berhenti menggunakan Linux) karena ternyata nasib progammer dari dunia Linux juga tidak kalah menjanjikan. Tidak percaya? Coba simak percakapan yang terjadi di milis KLAS berikut ini

Tan Jun Hay:
Saya seorang programmer Gambas, tapi sepengetahuan saya di Surabaya ini
jarang sekali (atau bahkan mungkin tak ada) yang membutuhkan Gambas.
Saya juga sering bertanya pada dosen saya, pada realitanya program yang
dibuat dengan platform open source hampir tidak laku. Bahkan cenderung
diacuhkan. Apakah ada yang punya solusi untuk hal ini?

Didiet Agus Pambudiono:
Saya juga programer gambas, tapi msh dlm tahap belajar, & sekarang sdg
ada tugas u pembuatan sim, menurut saya, jangan kuatir u masalah ini,
programer open source masih banyak dibutuhkan, mkn kita perlu sharing
pengalaman antar programer. Betul gak mas Iggy?

Saifudin Wardhana:
Bukan soal laku atau tak laku, kalau mau bisa aplikasi karya kita bisa
dijual dengan mudah, cuma kita harus tahu media untuk menjual aplikasi
itu. Atau mungkin bisa mencari perusahaan yang memakai platform
opensource. Atau juga…melamar kerja ke perusahaan yang memakai
platform Free & Open Source.
Yang penting kita jangan berhenti untuk melakukan terobosan. Sudah bisa
menguasai pemrograman FOSS sudah merupakan nilai tambah, tinggal
bagaimanakah kita mempergunakan sebaik-baiknya nilai tambah tersebut.
Jangan menyerah, Tetap Semangat.

Iggy Budiman:
Mas Jun Hay, Saya sudah bikin program untuk beberapa pabrik dan
kantoran, yang pakai gambas sudah 6 perusahaan. Source saya berikan pada
klien, tapi tetap saja (karena puas) klien meminta saya membuat untuk
perusahaan keduanya, setelah ini akan yang ketiga. Yang bikin mereka
excited justru karena saya memberikan source code walaupun harganya
lebih mahal.
Lagipula klien biasanya tidak memaksakan penggunaan bahasa apapun, yang
penting ada hasilnya dan bekerja dengan baik. Ndak usah pusing
platformnya laku atau tidak, yang penting kita fokus ke karya kita,
selama bahan-bahannya masih baik (Gambas, Linux, MySQL/PostgreSQL adalah
bahan yang baik kan?).

Iggy Budiman:
Yoi, aku ini aslinya pengin sharing walaupun ilmu seadanya. Masalahnya
aku sampai sekarang belum ada waktu siapkan materi-nya *sigh*. Kerjaan
datang bertubi-tubi nih.

Masih berjuang menyiapkan waktu.

Hatta Alfian:
Klien : Bisa buat program akutansi pake visual foxpro?
Programmer : Apa harus pake foxpro? kalo pake Java gimana?
Klien : Lho memang bisa pake selain foxpro? Setahu saya cuma foxpro
Programmer : Pada dasarnya semua bahasa pemrograman bisa dibuat untuk
membuat program apapun
Klien : Lalu apa bedanya? apa untung ruginya?

Mungkin contoh percakapan diatas bisa menggambarkan keadaan yang
sebenarnya di kehidupan nyata. Mungkin klien taunya kalo mau buat
program/aplikasi itu bisanya cuma pake salah satu bahasa pemrograman.
Dan biasanya yang paling sering digunakan spt VB, Foxpro dan Delphi.

Mengapa sebagian besar klien berpikiran seperti itu? karena memang
banyak sekali programmer itu develop programnya pake yang itu-itu.
Jarang yang pake yang open source. Seperti kita tahu bahwa bahasa
pemrograman yang opensource juga banyak spt C, C++, Java, Gambas, Dll.

Disinilah sebenarnya peran programmer untuk lebih memasyarakatkan
opensource dengan mendevelop aplikasi menggunakan FOSS dan memberikan
pencerahan kepada klien.

Buktinya… Mas Iggy bisa…. so jangan putus asa, jangan patah
semangat…

Nanang Purwanto:
sebenarnya judulnya terlalu extrim
program yang open source tidak hanya gambas

menurutku sih program yang dibikin untuk jalan multi platform akan lebih
unggul seperti java
karena untuk level integrasi program yang dibikin untuk jalan di multi
platform akan tetap eksis

apa lagi kalo ini menyangku sim, kedepan pasti ada yang namanya SDLC dimana
program kemungkinan akan pindah platform atau diintegrasikan dengan aplikasi
lain yang mungkin berbeda dengan platform yang ada saat ini

kita tau saat ini aplikasi integrasi harganya nggak murah atau mungkin kalo
dari sisi teknis kita bisa otak atik dari sisi API yang disediakan oleh
masing – masing pemrograman namun itu kita masih terbatas pada layer
bissines tapi dari sisi manajemen kemungkinan sangat kecil apalagi kalo
mengintegrasikan dari berbagai macam aplikasi yang berbeda2 dari aplikasi
yang sudah exists. tentunya butuh waktu yang lama

nah kalo kita pakai satu pemrograma yang dapat jalan dari berbagai platform
tentunya akan memudahkan dari sisi bissines maupun dari sisi manajemen untuk
melakukan integrasi dan SDLC karena API yang disediakan pasti sama dan
compatible.

-mna-:
Mungkin yang dimaksud oleh si Dosen itu “hampir tidak laku”, bila kita
membuat program kemudian ‘menjual’-nya apa adanya. Nah… karena di
Indonesia ini (mau tidak mau harus diakui) 90% lebih masih Mikocok
minded, tentu saja lebih dari 90% pasar akan mencari software yang basis
Mikocok juga. It’s a natural….

Kita harus melakukan cara pemasaran yang berbeda menghadapi hal ini,
seperti yang cak Iggy lakukan. Kalau dalam ilmu pemasaran itu disebut
sebagai niece market. Kita memasarkan pada pasar yang sangat spesifik.
Karena sangat spesifik maka akan terasa sangat berat. Bayangkan seperti
menjual pensil di Surabaya yang banyak sekolah ini….. bandingkan bila
anda harus menjual pensil di pedalaman Irian Jaya sana….. Koteka
mungkin lebih laku daripada pensil….. 🙂

Namun kalau anda sudah berhasil masuk dalam pasar niece tersebut, bisa
dikatakan anda penguasa tunggal di sana (seperti contohnya cak Iggy
juga). Pasar tidak punya referensi lain selain anda untuk menyelesaikan
masalah yang dihadapinya.

Cara masuk ke dalam niece market, selain anda harus rajin-rajin
hunting… di FOSS ini anda juga bisa melalui komunitas. Misalkan
menjadi pembicara dalam suatu acara…… atau ikut dalam pengembangan
software FOSS…. Dari sanalah salah satu referensi pasar niece mencari
anda.

Karena itulah…. jangan ragu-ragu kalau ada yang menawari jadi
pembicara, meski hanya sekelas KLAS…… Jangan hanya puas menjadi
pendengar (gak bermaksud menyinggung rekan-rekan pada posting yang
lain…. tapi kalau tersentuh…. yaaaa…… syukurlah…. 🙂 )

Good Luck Jun Hay…..

Ngakakpol:
Salam,

Saya pribadi menilai ini hanyalah masalah “mental”, kita terbiasa melakukan
sesuatu yg jamak/umum padahal tidak semua (baca: 100%) seperti itu. tren
bisnis IT selalu akan berubah, kalo kita meyakini sesuatu seperti Tan Jun
Hay yakin bahwa “next” tren bisnis IT akan mengarah ke FOSS maka tidak ada
cara lain selain menekuninya. karena pada “saatnya” nanti bisa jadi andalah
salah satu “rising star” di indonesia.

Bagaimana bersikap sambil menanti “keyakinan” anda benar2 datang? anda bisa
coba daftar jadi PNS lumayan tiap bulan ada pemasukan tetap. hehehe sorry
becanda. persiapkan “personal branding” anda dengan mengerjakan projek2
kecil dgn gambas, selain itu secara paralel kirim program tsb ke internet
seperti sourceforge utk mempercepat pengembangannya.. dari projek2 kecil
tsb, anda bisa bertahan hidup, tapi biasanya tidak bisa “kaya” 😦 Tetapi,
saat anda ketemu orang yang “tepat” dan sepaham dengan ide anda dan orang
tsb adalah pemodal.. hehehe… pasti makin asik…

Ok, segitu aja urun rembug saya semoga ada manfaatnya… Jangan mudah putus
asa dengan apa yang anda yakini..

Iklan

13 Comments

  1. Mas rottyu ini programmer juga?

  2. Blum jadi progrmmer mas…
    Ya tapi punya cita2 jd programmer…
    Sayangmya otak tidak terlalu mendukung…
    Hehehe…

  3. Hidup Open Source, saya juga seorang programmer open source dengan C++. Tenang aja semuanya bisa kita lakukan jika ada kemauan. salam open source.

  4. @adecib3r
    Benar mas, yg penting tetap semangat, dan terus belajar…

    Bravo PENGUIN!!

  5. sejak baca posting ini sy jadi kepikiran membuat posting serupa terutama soal programmer yg masih menggunakan visual basic enam. can you belive it it’s 2008 dan masih ada yg make programa yg dibuat 10 tahun lalu. Tapi bagaimana lagi, versi visual basic yg paling banyak dipake sampe sekrang. Memang ada versi net namun bagaimana yah…antara memilih belajar net dengan bahasa pemograman yg lain, kayaknya lebih baik memilih web programming (itu keputusan sy. sy juga programmer vb (dulunya) 🙂

  6. Assalamu’alaikum wr wb
    Mooas pakai gambas versi 2 dengan Mysql 5
    PKU Muhammadiyah bantul Udah menggunakan hampir setengah tahun ini untuk SIM RS. ALhamdulilah lebih hebat dan enak dan yang penting halal serta free .
    Jika ingin berbagi rasa email saya s1swanto_it.plox@yahoo.co.id
    hidup Linux amien

  7. @anwar
    Terima kasih atas curhatnya mas, mudah2an semakin banyak aktivis Linux dan FOSS yg mau curhat seperti sampeyan sehingga keraguan masyrakat untuk menggunakan Linux dan FOSS bisa berkurang.

  8. gambas linux masuk kurilkulum sma, aku juga agak kesulitan pelajari gambas …soalnya lg ngajar ada yang mau beri soal-soal atau toturial mengenai gambas

  9. gambas …., ane kenal gambas sudah setahun yang lalu, hanya sekedar kenal n belum ndalemin bahasanya.

    nah untuk sekrang beberapa bulan belakangan ini, karena tuntutan kerjaan dan coba menerapkan programming FOSS di perusahaan ane mencoba untuk mendalamin program gambas ini. proyek pertama ane pinginya bikin antar muka untuk aplikasi sms server, saat ini ane masih develop gimana baiknya sambil ngeraba-ngeraba dikit program ini, kebetulan ane ada dasar VB jadi sedikit tau gimana memperlakukan program gambas ini, mungkin ada yang mau share ilmu sama ane … 🙂 I hope …

  10. Perlu kita sadari klo sebagian besar pengguna komputer di tanah air berbasis Windows jadi memaksa programmer tetap exist di bahasa programmer berbasis Windows. Saya sendiri belajar GAMBAS tapi ada order tetep aja lari ke VB. Tanya kenapa? Karena kesulitan pas coba installer. Jadi terpaksa deh balik lagi pake VB. Ada yang tau ga compress jadi installer/setup di GAMBAS untuk aplikasi basis Windows, saya minta tolong di email ke: arnezt@arnezt.web.id.
    Makasih sebelumnya klo ada yg bisa bantu. Klo ada kan saya kembali semangat belajar GAMBAS.. HIDUP GAMBAS

  11. alhamdulillah yah.. sesuatu banget bisa tetap jadi programer.. saya jadi tetap semangat belajar gambas ini.. 😀 dan semoga kelak saya bisa bekerja di perusahaan yang menggunakan opensource software.. :)) amiin..

  12. Linux ane pake buat routing server dan dns an proxy aja… klo dah mo maen2 ke program/database wah… amit-amit pake linux.. buang2 waktu mending pake keluarga windows aja dengan segala kemudahan.. xixixi.. cepat kerja nya cepat dpt uang nya…

    keburu pake lama di ambil orang lain job nya…

    (Teknologi untuk membantu, bukan untuk di bantu..)

  13. Reblogged this on FOSS-ID-Gorontalo and commented:
    Jangan Khawatir Buat para Programming Gambas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: