Skip navigation

Kota Makassar atau Ujung Pandang yang terletak di Pulau Sulawesi bagian Selatan merupakan kota terbesar dan pintu gerbang di Indonesia bagian timur. Saya beruntung sekali telah mendapatkan kesempatan mengunjungi ibu kota Propinsi Sulawesi Selatan ini untuk kedua kalinya. Kesempatan pertama menginjakkan kaki di Kota Daeng ini saya alami pada tanggal 22-27 Januari silam, sayangnya saya tidak terlalu banyak menikmati keindahan kota Makassar karena pekerjaan yg cukup menyita waktu. Kala itu saya hanya berhasil mengunjungi Trans Studio dan Somba Opu serta melewati Pantai Losari (hanya melintas ketika hendak ke Pasar Somba Opu).

Kapal Terbang

Burung besi tumpanganku

Tanggal 10-13 Maret yang lalu saya kembali mengunjungi Kota Anging Mamiri ini untuk kedua kalinya (jadi sesungguhnya cerita ini sudah sangat basi). Tujuan utamanya masih sama, perjalanan dinas untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan di Pangkep. Perjalanan dari Surabaya ke Makassar ternyata tidak begitu lama, hanya dengan waktu tempuh sekitar satu jam dan sepuluh menit pesawat yang saya tumpangi sudah mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin yang megah itu.

bandar udara di Makassar

Bandara Sultan Hasanuddin

Dari Makassar perjalanan dilanjutkan ke Pangkep, lokasi di mana pabrik PT. Semen Tonasa berlokasi. Butuh waktu tempuh untuk sekitar dua jam untuk mencapai wilayah ini dari kota Makassar (padahal jaraknya tidak lebih jauh dibandingkan Surabaya-Makassar).

Kantor pusat Semen Tonasa

Di depan kantor ST

Perjalanan Makassar-Pangkep ini harus saya tempuh dua kali dalam sehari karena saya menginap di Banua Hotel di Kota Makassar. Betapa beruntungya saya karena hotel tempat saya menginap lokasinya tidak begitu jauh dari Pantai Losari yang terkenal dengan pemandangan matahari terbenam nan indah itu. Keberuntungan saya bertambah lagi ketika pekerjaan telah dapat diselesaikan dalam waktu dua hari sehingga saya dapat memaksimalkan hari Sabtu (12/03/2011) untuk bertualang di Ujung Pandang.

Losari Beach

Keramaian di Pantai Losari

Berbeda dengan kunjungan saya yang pertama ke kota ini, kali ini saya benar-benar bisa menikmati perjalanan mengelilingi kota penuh sejarah ini. Beberapa tempat bersejarah berhasil saya kunjungi, beberapa panganan khas Makassar yang terkenal dengan cita rasanya itu juga berhasil saya cicipi. Hebatnya lagi, sebagai pengunjung baru di kota ini saya tidak kesulitan untuk mendapatkan transportasi, meski di beberapa tempat saya harus menaiki becak. Perjalanan saya mulai dari Benteng Ujung Pandang atau Fort Rotterdam yang terletak di Jl. Ujung Pandang.

Benteng Ujung Pandang

Fort Rotterdam

Benteng Rotterdam ini ketika saya perhatikan dari maket yang ada di dalam benteng memiliki bentuk menyerupai penyu (sayang sekali saya tidak memotret maket itu). Terdapat empat bastion yang menjadi kaki untuk bentuk kura-kura, sementara pintu utama di bagian kepala. Benteng yang dibangun tahun 1545 ini menghadap ke laut yang kini hanya dipisahkan oleh jalan di depan benteng. Di dalam benteng ini juga terdapat Museum La Galigo yang menyimpan berbagai barang bersejarah peninggalan kerajaan Gowa dan Tallo. Salah satu yang cukup menarik perhatian saya adalah pakaian perang ini.

Baju perang

Pakaian perang peninggalan Toraja

Sayang sekali saya tidak tidak begitu memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh guide museum ini karena saya lebih asyik memperhatikan berbagai barang-barang bernilai sejarah tinggi itu. Berada di museum itu serasa menyaksikan kehidupan masyarakat kota Makassar secara umum dan Sulsel secara umum. Saya juga sempat mendengarkan penjelasan mengapa Makassar begitu terkenal sebagai kota dengan wisata kuliner sea food, tidak lain karena nenek moyang mereka sudah gemar makan ikan sejak dahulu. Dan hal itu tergambar secara jelas di museum ini.

Wah tak terasa cerita saya sudah cukup panjang kali lebar juga, malam juga semakin larut, mata juga semakin tak tahan dengan kantuk. Sebaiknya cerita ini saya lanjutkan besok saja. Bersambung…

About these ads

  1. Kalau sudah keasyikan sendiri, memang bisa lost focus gak kedengaran lagi kata2 guide.
    Saya belum pernah ke Makassar. Ah jadi pengen keliling Indonesia, baru sadar umur udah segini tapi masih sedikit kota yang saya kunjungi.

    • Sebenarnya ga terlalu rame di museum itu hanya ada saya dan tiga orang lain yg juga dari luar Makassar, dasar saya aja yg ga sabaran nungguin penjelesan si guide

  2. Saya bolak balik lewati Makassar cuma pernah transit doang dari Papua ke Jawa atau sebaliknya, ntah di bandara lama maupun di bandara baru. Blum pernah ngunjungi kotanya sama sekali. :mrgreen:

    Paling enak ke museum kalo sepi sih, jadi guide-nya yang ngikuti kita. Kalo rombongan dan ngikuti guide rada males. Hehe..

  3. itu bukan baju perang kerajaan gowa melainkan tanah toraja dasar tolol ……!!!!


One Trackback/Pingback

  1. [...] melanjutkan cerita dari Makassar… Pintu masuk Fort [...]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 748 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: